BENARKAH SUSU MENETRALKAN OBAT, MITOS ATAU FAKTA?

Susu mengandung protein yang bersifat menetralkan racun. Mungkin Anda pernah mendengar anjuran ketika terdapat kasus keracunan sebaiknya diberi banyak susu untuk menetralkan racun dalam tubuh. Sesuai dengan prinsipnya, obat bekerja seperti racun dalam tubuh, sehingga ketika kita mengkonsumsi obat bersamaan dengan susu, obat tersebut akan dinetralisir oleh susu. Lantas benarkah susu akan menjadi penetral ketika diminum bersamaan dengan obat? Adapula anjuran, ketika minum obat, setelahnya kita tidak diperbolehkan langsung minum susu, benarkah demikian?

Tak dapat dipungkiri, banyak mitos yang muncul di kalangan masyarakat terkait anggapan bahwa minum susu bersamaan dengan minum obat akan menyebabkan obat menjadi netral atau tidak berkhasiat. Anggapan tersebut tidaklah benar. Sangat disayangkan masyarakat mengambil kesimpulan sederhana bahwa semua obat dapat berkurang khasiatnya jika diminum dengan susu. Anggapan bahwa susu dapat menetralkan obat berkembang pada tahun 1950-1980, dimana obat Tetracycline digunakan secara luas sebagai antibiotik. Tetracycline memang tidak boleh diminum bersamaan dengan susu.

OBAT BEREAKSI DENGAN SUSU?

Pada dasarnya, memang terdapat interaksi antara beberapa jenis antibiotika dengan susu, akan tetapi tidak membuat obat tersebut menjadi tidak berkhasiat atau netral. Antibiotika jenis Tetracycline, Cyprofloxacin dan suplemen Fe (zat besi), apabila dikonsumsi bersamaan dengan susu, akan terjadi gangguan penyerapannya di lambung maupun usus. Namun hal yang perlu digarisbawahi bukan menjadikannya netral, melainkan terganggu penyerapannya.

Jenis obat seperti Tetracycline, Doxycycline, Cyprofloxacin, Ofloxacin dan turunannya akan berkurang penyerapannya jika diminum bersamaan dengan susu atau produk yang mengandung kalsium tinggi. Obat-obatan tersebut dapat membentuk gumpalan jika bereaksi dengan sesuatu yang mengandung kation seperti besi (Fe++), Kalsium (Ca++), Aluminium (Al+++), Magnesium (Mg++), sementara susu banyak mengandung Kalsium (Ca++). Gumpalan ini mengganggu penyerapan obat yang akan menjadikan kadar obat di dalam tubuh menurun. Selain susu, jus jeruk juga banyak mengandung kalsium, sehingga tidak dianjurkan diminum bersamaan dengan jenis obat di atas. Adapula kopi, dan teh yang masing-masing mengandung zat-zat seperti kafein dan tannin yang mungkin saja bereaksi dengan obat yang kita minum.

ADA OBAT YANG HARUS DIMINUM BERSAMA SUSU

Terdapat beberapa obat yang justru lebih baik diminum bersama susu, misalnya NSAID (Non Steroidal Anti Inflammatory Drug). Jenis yang terkenal adalah aspirin dan ibuprofen. Obat-obatan yang tergolong dalam NSAID ini bersifat lypophylic, mudah larut dalam lemak sehingga sering dianjurkan untuk diminum dalam waktu 30 menit sesudah makan. Selain itu, obat-obatan yang mudah larut dalam lemak, seperti Griseofulvin (obat anti jamur), vitamin A, D, E, K, dan sebagian besar obat lainnya justru sangat dianjurkan diminum bersamaan dengan susu karena sifatnya yang mengandung banyak lemak.

Hal utama yang perlu diperhatikan dalam aturan minum obat adalah apakah obat tersebut boleh diminum bersamaan dengan makanan (termasuk susu) atau tidak. Meminum obat bersamaan dengan makan berarti obat tersebut harus diminum dalam jangka waktu satu jam sebelum makan sampai dua jam setelah makan. Dengan kata lain, perut harus dalam keadaan berisi ketika meminum obat tersebut. Contohnya adalah Amoksisilin, Metronidazol, obat-obat penghilang rasa sakit seperti Diklofenak, Asam Mefenamat, Ibuprofen. Meminum obat sebelum makan berarti obat tersebut diminum lebih dari satu jam sebelum makan atau dengan kata lain, perut dalam keadaan kosong. Contohnya adalah obatan-obatan anti maag seperti Antasida, Ranitidin,dan Omeprazol. Meminum obat setelah makan berarti obat diminum lebih dari dua jam setelah makan atau dengan kata lain perut harus dalam keadaan kosong. Contoh obatnya adalah Ampisilin, Siprofloksasin, Bactrim.

KESIMPULAN, BOLEHKAH MINUM OBAT DENGAN SUSU?

Pada umumnya, kebanyakan obat tidak dipengaruhi oleh makan. Agar tidak membingungkan Anda, baca terlebih dahulu label resep yang terdapat pada wadah atau tanyakan kepada dokter atau apoteker apabila Anda merasa kurang memahami sesuatu. Perhatikan petunjuknya, termasuk peringatan dan pencegahan interaksi yang tertera pada label obat-obatan dan paket, karena obat-obatan yang dijual bebas pun dapat menyebabkan masalah.

 

Sumber : laman sehatnesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *