KETIKA PENGABDIAN HANYA SERINGAN KAPAS

Bidan Dewi, begitulah Dewi Anggraini kerap disapa saat ia berada di lingkungan kerja. Dewi merupakan salah satu bidan yang bertugas di Klinik RBG RZ cabang Medan. Ia bertugas melayani pemeriksaan kehamilan serta persalinan.

Wanita kelahiran Lubuk Pakam, 20 Agustus 1987 ini sudah menjalani profesi sebagai bidan di Klinik RBG RZ cabang Medan selama 7 tahun. Sosoknya yang ramah dan sopan menjadikan Dewi mudah dikenal dikalangan pasien yang datang.

“Kalau mendapat tugas berjaga dengan bidan Dewi, rasanya senang. Bukan karena senyumnya saja, tapi rasa tanggung jawabnya kepada pasien. Sungguh membuat saya kagum. Ketika pasien yang datang di malam hari memang perlu di follow up, Bidan Dewi akan mondar-mandir untuk melakukan pengecekan keadaan pasien. Istirahat sebentar, lalu lanjut lagi melakukan pengecekan,” ungkap Perawat Yuhana.

Keramahan Bidan Dewi memang bukan sekedar basa-basi. Tak jarang diluar jam kerjanyapun, bila tetangganya membutuhkan pertolongannya, maka ia akan langsung mengunjungi rumah mereka untuk melakukan pemeriksaan terutama pada tetangga yang merupakan ibu hamil atau ibu yang baru melahirkan.

“Saya sering mendapat pasien pasca bersalin yang hendak memeriksakan anaknya. Tanpa saya tanya, pasien tersebut sudah lebih dulu menceritakan riwayat persalinnya yang ditolong oleh Bidan Dewi. Itu merupakan bukti bahwa pasien sangat puas dengan pelayanan dan perawatan yang dilakukan oleh Bidan Dewi,”tutur Dokter Fitria, dokter yang juga menjabat sebagai kepala Klinik RBG RZ Medan.

Menurut Dewi, sabar merupakan kunci utama untuk menjadi seorang penolong persalinan. Berkat ilmu yang didapat dari pelatihan APN (Asuhan Persalinan Normal) terstandar yang ia dapatkan pada tahun 2013 lalu, ia dikenal sebagai bidan yang mampu membangun kedekatan dengan pasien yang hendak melakukan persalinan.

“Biasanya saya menceritakan pengalaman saat saya melakukan persalinan anak pertama. Dengan begitu, sehingga sang ibu jadi tidak khawatir lagi. Setelah pasien merasa nyaman dengan saya, biasanya mereka akan mengungkapkan keinginan mereka. Misalnya ingin makan cendol, makan ice cream, dan pasti perwakilan keluarga akan membelikannya. Walaupun mungkin itu cuma mitos tapi kenyataanya dengan begitu hati ibu menjadi senang dan menurut saya itu sangat membantu dalam kelancaran proses persalinan,” jelas Dewi.

Ibu dari satu orang anak ini mengaku bahwa profesi bidan memang bukan impiannya dulu melainkan keinginan kedua orangtuanya. Tapi ia tidak merasa menyesal. Karena menurutnya setelah dijalani, dunia kebidanan itu sangat menarik. Karena saat persalinan, banyak yang harus ditangani dengan keahlian tersendiri dari seorang penolong persalinan. Dan semakin banyak persalinan yang ditangani akan semakin menambah ilmu sebagai bekal bagi seorang bidan.

“Saya senang ketika bertemu pasien ibu hamil dengan berbagai macam kasus dan cerita yang berbeda. Semua unik dan spesial. Saya juga banyak belajar dari kasus yang dialami oleh pasien-pasien hebat itu,” tutur Dewi ketika ditanya kesan suka yang ia dapatkan sebagai seorang bidan.

Satu pengalaman yang tak pernah Dewi lupakan. Ketika itu, ia sedang berjaga malam di Klinik, lalu datang seorang pasien ibu hamil yang hendak melakukan persalinan. Saat pembukaan ketiga, sang ibu mulai cemas dan mulai berteriak takut akan meninggal. Situasi ruang persalinanpun menjadi panik. Kepanikan tersebut tak berlangsung lama. Dewi kembali menasehati dan mengajak ngobrol sang ibu agar rileks kembali. Setelah persalinan selesai, Dewi kembali dikagetkan oleh kondisi bayi yang mengalami labio platoskizis (bibir sumbing).  Sang ibu serta suaminyapun kaget melihat kondisi bayi mereka. Bahkan awalnya sang suami terus menyalahkan sang ibu karena kondisi bayinya yang seperti itu. Tapi akhirnya, setelah mendapat penjelasan dari Dewi, merekapun dapat menerima kondisi tersebut dan segera membawa bayi mereka untuk dirujuk ke Rumah Sakit besar guna mendapatkan perawatan lebih lanjut.

“Ya begitulah kisah seorang penolong persalinan. Kunci utamanya ya memang harus sabar. Duka yang saya rasakan itu ketika kita sudah menangani pasien, sudah melakukan tindakan tapi tiba-tiba harus dirujuk juga ke Rumah Sakit. Tapi sampai dengan saat ini, saya sangat bahasgia menjadi seorang bidan. Yang penting itu selalu mengikhlaskan diri untuk menganbdi menjadi penolong yang selalu menebar kebaikan,” tutur Dewi menutup perbincangan.

Newsroom : Nurul Rahayu

Share this:
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *