SEMAKIN GIAT BELAJAR SETELAH MENJADI KONSELOR LAKTASI

Adalah Nurmayani, salah satu bidan yang bertugas di Klinik RBG (Rumah Bersalin Gratis) Rumah Zakat cabang Medan. Wanita berusia 32 tahun ini telah mengabdi selama 8 tahun di Klinik tersebut. Ia merupakan salah satu bidan yang menjadi Konselor Laktasi tersertifikasi yang ada di Klinik RBG RZ Medan.

“Sertifikasi Konselor Laktasi itu saya dapatkan ketika mengikuti Pelatihan 40 jam Manajemen dan Konseling Laktasi, Modul WHO yang diadakan oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia pada tahun 2013,” papar Nurmayani.

Setelah mendapatkan sertifikasi tersebut, Bidan Nurmayani semakin giat belajar dan berbagi ilmu mengenai manfaat pemberian ASI. Lalu kemudian pada Agustus 2015, ia bersama almarhumah Hariyanty Thahir,  SKM (Manajer Klinik RBG RZ Medan 2008-2016) menginisiasi pembentukan Kelompok Peduli ASI.

Kelompok Peduli ASI merupakan komunitas yang terdiri dari beberapa orang ibu menyusui yang kemudian disebut sebagai kader ASI. Dalam kelompok tersebut, Nurmayani bersama bidan lainnya memotivasi para ibu untuk dapat menyusui buah hati mereka. Selain itu, para bidan juga melibatkan kader untuk bersama-sama memasifkan sosialisasi ASI.

“Pada saat itu, anggota Kelompok Peduli ASI masih sedikit. Kira-kira 12 orang. Tahun kedua meningkat jadi 15 orang. Anggotanya terdiri dari member Klinik dan non member serta kader Posyandu sekitar RBG juga ada yang ikut,” tutur Nurmayani.

Selain terkenal dengan keramahannya, Bidan Nurmayani juga merupakan seorang yang pembelajar. Ia sangat bersemangat ketika ada pelatihan-pelatihan yang memang sesuai dengan program Klinik. Pelatihan lain yang pernah ia ikuti diantaranya pelatihan senam hamil, yoga untuk ibu hamil dan pijat bayi.

“Ketika ada pelatihan yang sesuai dengan program Klinik ataupun pengembangan program,  biasanya bidan Yani semangat ikut, dan bukan itu saja,  tanpa diminta untuk berbagi ke teman lainpun,  dia pasti akan membagikan ilmu yang ia dapat dari pelatihan tersebut,” tutur dr. Fitria.

Menjadi bidan senior, tak lantas menjadikan Nurmayani merasa lebih baik disbanding bidan lainnya. Ia tetap ramah dan menjadi pembimbing bagi bidan-bidan lain yang bertugas di Klinik RBG Rumah Zakat Medan. Dalam melakukan tindakan pelayananpun, ia dapat melakukan kolaborasi antara bidan dan perawat yang sangat baik.

Nurmayani menuturkan bahwa menurutnya, profesi bidan adalah lahan ibadah. Qodarullah , tangan bidanlah yang pertama kali menyentuh bayi-bayi calon generasi masa depan. Calon pemimpin, guru, ustadz dan sebagainya. Saat bidan punya masalah, bidan sebisa mungkin harus tersenyum melayani pasien yang akan melahirkan.

“Tanggung jawab seorang bidan tentu berat. Saat bidan punya masalah, bidan harus tetap tersenyum dan menyemangati pasien yang hendak bersalin. Bahaya kan kalau nanti pasien dilayani oleh bidannya yang manyun. Nah, maka dari itu kunci kehebatan seorang bidan adalah dengan terus belajar dan belajar. Belajar melalui pelatihan-pelatihan dan juga belajar dari pengalaman. Bagi bidan lainnya, saya berpesan untuk tetap semangat menjalani profesi ini hingga akhir hayat, semoga lelah letih kita dicatat sebagai bekal untuk kita kembali kepada-Nya,” pungkas Nurmayani.

Newsroom : Nurul Rahayu

Share this:
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *