Pos

MEMPERINGATI PEKAN PEDULI HEPATITIS B, IBU-IBU KELURAHAN PEJATEN TIMUR MENDAPATKAN INI.

Jakarta, (08/09).  Memeringati Pekan Peduli Hepatitis B, bertempat di wilayah binaan Kelurahan Pejaten Timur, Jakarta Selatan selepas ashar, ibu-ibu muda ini mendapatkan edukasi mengenai hepatitis B yang digelar oleh Rumah Zakat dan Cita Sehat  dalam kegiatan Siaga Sehat.

Tak hanya edukasi, mereka juga mendapatkan souvenir gunting kuku, buku saku hepatitis serta media edukasi berupa leaflet berisi informasi mengenai penyakit hepatitis.

Ibu ibu usia produktif dinilai penting mendapatkan edukasi mengenai hepatitis B, karena 95% penularan penyakit ini ialah melalui ibu ke anak. Selain itu , edukasi ini diharapkan dapat memutus mata rantai penderitas hepatitis sejak dini dengan upaya skrining pada ibu hamil serta imunisasi sejak 24 jam kelahiran.

“Edukasi yang menyenangkan , selain mendapatkan pengetahuan, juga mendapatkan buku dan souvenir. Terimakasih Rumah Zakat dan Cita Sehat, ” ujar Ibu Beb.

Newsroom : Ismi, CSF Jakarta Selatan

BAGAIMANA MENYIKAPI HEPATITIS C DAN B?

  1. Periksakan diri Anda secepatnya apabila Anda termasuk orang berisiko tinggi terjangkit virus Hepatitis B dan C. Mereka yang berisiko tinggi adalah:
  • Para tenaga medis (dokter, perawat, teknisi lab) dan semua yang berhubungan dengan darah manusia.
  • Ada keluarga yang menderita penyakit hati walaupun tidak serumah.
  • Pernah menerima transfusi darah.
  • Pernah dilakukan tato atau tindik.
  • Para ibu yang hamil.
  1. Terapkan Pola Hidup Sehat
  • Ambil keputusan untuk membuat perubahan yang sehat guna melindungi hati Anda.
  • Mengidap Hepatitis B atau C dapat menjadi semacam “pengingat” agar kita lebih sadar dalam menjaga kesehatan tubuh.
  1. Makan dan Minum yang Seimbang
  • Diet sehat seimbang antara karbohidrat, lemak, dan protein yang tepat.
  • Konsultasikan tentang diet Anda kepada dokter atau ahli gizi.
  1. Tidak Mengonsumsi Alkohol adalah Pilihan Terbaik
  • Tidak ada porsi “aman” sedikit pun untuk mengonsumsi alkohol.
  • Semakin banyak Anda minum alkohol, semakin besar risiko kerusakan hati yang terjadi, hal tersebut rentan menyebabkan sirosis dan kanker hati.
  • Alkohol dapat menghambat pengobatan dan melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga memperparah kondisi peradangan hati.
  1. Tetap Bugar
  • Olahraga memang tidak akan mengusir virus tetapi dapat membantu Anda menjadi lebih sehat.
  • Anda bisa melakukan aktivitas olahraga ringan, seperti jalan kaki, berenang, yoga, atau tai-chi.
  1. Hentikan Merokok
  • Hati rentan terhadap pengaruh zat kimia berbahaya, termasuk racun rokok.
  1. Gunakan Obat dan Suplemen Alami dengan Hati-hati
  • Kandungan suplemen alami dan obat yang dijual bebas harus dinetralkan oleh hati.
  • Bila Anda menggunakan suplemen dan obat ini tanpa perhitungan, hal ini akan memperberat kerja organ hati yang telah terinfeksi.
  • Banyak obat bebas ringan untuk demam misalnya, dapat menjadi ‘racun’ bagi hati bila dikonsumsi tanpa perhitungan.
  • Konsultasikan dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen atau obat apa pun.

 

Sumber : hepatitis.roche.co.id

WORLD HEPATITIS DAY: RUMAH ZAKAT GELAR SIAGA SEHAT BAGI JAMA’AH MASJID JAMI NURUL FALAH JAKARTA SELATAN

Jakarta, (26/7). Memperngati Hari Hepatitis Sedunia, Cita Sehat bersama Rumah Zakat Jakarta Selatan menggelar Siaga Sehat berupa pemeriksaan kesehatan gratis dan memberikan informasi pengetahuan kesehatan tentang hepatitis.

Siaga Sehat berlangsung mulai pukul 10.00-14.00 WIB di halaman depan masjid Nurul Falah, Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan. Banyak sekali jama’ah, masyarakat, dan karyawan kantor sekitar masjid antusias menghadiri kegiatan tersebut. Mereka melakukan pemeriksaan kesehatan ataupun sekedar mendengarkan materi penyuluhan dan melakukan konsultasi kesehatan.

 “Lebih dari 500 juta orang menderita Hepatitis dan 1 juta kematian akibat hepatitis setiap tahun, diseluruh dunia. Maka dari itu, sosialisasi seperti ini memang sangatlah diperlukan,” ujar Anyta, PIC kegiatan.

Tim Rumah Zakat juga membagikan buah-buahan kepada warga yang telah memeriksakan kesehatannya. Salah satu jama’ah masjid Nurul Falah, Mardi (45) sangat berterimakasih karena bisa mendapatkan pelayanan kesehatan gratis dan informasi kesehatan tentang hepatitis yang sangat bermanfaat.

Newsroom : Ekaningsih, CSF Jakarta Utara

MITOS ATAU FAKTA ? PENDERITA HEPATITIS TIDAK BOLEH MENGKONSUMSI MAKANAN BERSANTAN.

Faktanya, menurut dokter dari Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia, dr. Irsan Hasan, SpPD-KGEH mitos-mitos tersebut tidaklah benar. Ia mengimbau agar masyarakat juga perlu menggali informasi lebih dalam melalui dokter yang sudah kompeten, mengenai fakta dan mitos seputar hepatitis agar tidak lagi salah langkah.

“Bahkan para dokter di RSCM sudah melakukan penelitian mengenai makanan bersantan yang ‘katanya’ tidak baik untuk pasien. Penelitian tersebut menunjukkan, pasien yang mengkonsumsi makanan bersantan fungsi organ hatinya justru lebih baik. Namun dengan catatan konsumsinya tetap harus dikontrol,” kata dia dalam acara Peringatan Hari Hepatitis Sedunia di Double Tree Hotel Jakarta, Selasa (9/8).

Dikutip dari republika.co.id

Analisis Situasi Hepatitis di Indonesia

Virus Hepatitis B telah menginfeksi sejumlah 2 milyar orang di dunia, sekitar 240 juta orang diantaranya menjadi pengidap Hepatitis B kronik, sedangkan untuk penderita Hepatitis C di dunia diperkirakan sebesar 170 juta orang. Sebanyak 1,5 juta penduduk dunia meninggal setiap tahunnya karena Hepatitis.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), studi dan uji saring darah donor PMI, memperkirakan bahwa saat ini terdapat 28 juta penduduk Indonesia yang terinfeksi Hepatitis B atau C, 14 juta diantaranya berpotensi untuk menjadi kronis. Maka diperkirakan, 10 dari 100 orang Indonesia terinfeksi Hepatitis B atau C.

Prevelensi Hepatitis Menurut Provinsi Tahun 2007 dan 2013

untitled

Lima provinsi di Indonesia dengan angka penderita hepatitis tertinggi pada tahun 2013 adalah Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.

Tingkat kejadian hepatitis di Nusa Tenggara Timur tercatat mencapai 4,3% dari total populasi penduduk, mengalami kenaikan sebanyak 2,4% sejak tahun 2007.

Prevalensi Hepatitis Menurut Karakteristik di Indonesia pada Tahun 2013

Prevalensi hepatitis dari tahun 2007 hingga 2013 tetap mengalami peningkatan di setiap kelompok usia. Angka kejadian hepatitis tertinggi terdapat pada kelompok usia 45-54 tahun (1,4%) dengan lonjakan sekitar 0,6% dalam kurun waktu 2007-2013, diikuti oleh kelompok usia 25-34 tahun dan 15-24 tahun.

Upaya Menekan Angka Penyebaran

Pemerintah Indonesia, melalui Kemenkes, melakukan beberapa upaya guna menekan penyebaran hepatitis B, di antaranya gerakan imunisasi hepatitis B pada bayi mulai tahun 1997. Mulai tahun 2010, mulai gencar dilakukan sosialisasi hepatitis B pada masyarakat Indonesia secara luas pada peringatan Hari Hepatitis Sedunia.

Upaya pencegahan juga dilakukan Kemenkes melalui pendidikan dengan membuat buku pedoman pengendalian hepatitis, poster, buku saku, serta seminar mengenai hepatitis di beberapa kota di Indonesia untuk petugas kesehatan dan masyarakat.

Selain itu, diadakan deteksi dini hepatitis B pada ibu hamil dan petugas kesehatan. Deteksi dini ibu hamil dimaksudkan untuk memotong mata rantai penularan vertikal hepatitis B dari ibu ke anaknya. Sedangkan, deteksi dini pada petugas bertujuan mencegah penularan secara horizontal.

Upaya untuk menekan risiko penularan secara horizontal dapat dilakukan seluruh anggota masyarakat, dengan langkah berikut:

  • Menutup semua luka yang terbuka.
  • Jangan mengunyah makanan yang akan diberikan pada bayi.
  • Hindari berbagi permen karet.
  • Jangan berbagi alat cukur, sikat gigi, alat manikur atau anting-anting tindik bersama orang lain.
  • Pastikan jarum dalam keadaan steril untuk pengobatan, tindik telinga, atau pembuatan tato.
  • Gunakan kondom saat melakukan hubungan intim.
  • Pakai sarung tangan ketika menyentuh atau membersihkan sekresi, atau cairan tubuh atau benda-benda pribadi orang lain. Hal-hal seperti pemakaian perban, kain, atau pembalut perlu diperhatikan.
  • Bersihkan area yang terkena darah dengan cairan pembersih yang dicampur air.

Jika Anda melakukan kontak melibatkan darah dan cairan tubuh lain, dengan penderita hepatitis B, segera periksakan diri ke pusat layanan kesehatan. Untuk Anda yang terinfeksi virus hepatitis B, konsultasikan dengan dokter mengenai pengobatan dan tindakan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

Literatur : Infodatin Kemenkes RI, aldokter.com

HEPATITIS ITU APA SIH ?

Penyakit hepatitis merupakan masalah kesehatan masyarakat dunia termasuk Indonesia. Kabar buruknya, menurut data departemen kesehatan, Indonesia termasuk negara dengan nilai endemisitas tinggi Hepatitis B terbesar kedua di Negara South East Asian Region (SEAR) setelah Myanmar. Lalu, apa yang dimaksud dengan Hepatitis ?.

Istilah “Hepatitis” digunakan untuk semua jenis peradangan pada sel-sel hati, yang bisa disebabkan oleh infeksi (virus, bakteri, parasit), obat-obatan (termasuk obat tradisional), konsumsi alcohol, lemak yang berlebih dan penyakit autoimmune (penyakit kelainan kekebalan tubuh). Terdapat 5 jenis Hepatitis Virus yaitu :

Hepatitis A :

  • Jenis ini diakibatkan oleh virus Hepatitis A, dan merupakan penyakit endemis di beberapa Negara berkembang. Jenis ini merupakan jenis Hepatitis yang paling ringan, bersifat akut, sembuh spontan/sempurna tanpa gejala sisa dan tidak menyebabkan infeksi kronik.
  • Penularannya melalui fecal-oral. Sumber penulatan umumnya terjadi karena pencemaran air minum, makanan yang tidak dimasak dengan benar, sanitasi yang buruk dan personal hygniene
  • Gejalanya bersifat akut (mendadak dan cepat memburuk) dan tidak selalu sama kepada setiap penderita. Dapat berupa demam, sakit kepala, mual dan muntah sampai ikterus (perubahan warna kuning pada kulit dan sclera yang terjadi akibat peningkatan kadar bilirubin didalm darah (Fraser,2012)). Bahkan gejalanya dapat berupa pembengkakan pada organ hati.
  • Tidak ada pengobatan khusus, hanya ada pengobatan pendukung (penyuntikan immunoglobulin) dan menjaga keseimbangan nutrisi.
  • Pencegahannya melalui kebersihan lingkungan, terutama terhadap makanan dan minuman serta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Hepatitis B

Hepatitis B akut

  • Etiologi virus Hepatitis B dari golongan DNA.
  • Masa inkubasi 60-90 hari.
  • Penularan virus secara personal dapat terjadi 95 % saat proses persalinan dan 5 % intra uterina. Selain itu, virus menular melalui transfui darah, jarum suntik tercemar, pisau cukur, tattoo, dan transplantasi organ.
  • Gejalanya dapat berupa munculnya rasa lesu, nafsu makan berkurang, demam ringan, nyeri abdomen (bagian diantara dada (bagian paling bawah tulang rusuk) dan pelvis atau bagian paling atas dari paha) sebelah kanan, timbulnya ikterus, dan air kencing berwarna seperti teh.
  • Pengobatan umumnya bersifat simtomatis (sesuai gejala).

Hepatitis B Kronik

  • Hepatitis B kronik berkembang dari Hepatitis B akut.
  • Usia saat terjadinya infeksi mempengaruhi kronisitas penyakit. Bila penularan terjadi saat masih bayi maka 95 % akan menjadi hepatitis B kronik. Sedangkan bila penularan terjadi pada usia balita, maka 20-30 % menjadi penderita Hepatitis B kronik. Sedangkan pada saat dewasa maka 5 % kemungkinan menjadi penyakit Hepatitis B kronik.
  • Biasanya tanpa gejala.
  • Untuk pengobatannya, saat ini telah tersedia 7 macam obat untuk Hepatitis B yaitu Interferon alfa-2a, Peginterferon alfa-2a, Lamivudin, Adefovir, Entecavir, Telbivudin dan Tenofovir.

Hepatitis C

  • Penyebab utamanya adalah sirosis dan kanker hati.
  • Masa inkubasi 2-24 minggu.
  • Penularan hepatitis C melalui darah dan cairan tubuh, melalui jarum suntik pada tato, transplantasi organ, kecelakaan kerja (petugas kesehatan), hubungan seks dengan penderita.
  • Sampai saat ini belum tersedia vaksin untuk Hepatitis C.

Hepatitis D

  • Virus hepatitis D jarang ditemukan tetapi paling berbahaya.
  • Disebut juga virus delta, virus ini memerlukan virus Hepatitis B untuk berkembang biak.
  • Tidak ada vaksin, tetapi orang akan otomatis terlindungi bila sudah diberikan imunisasi Hepatitis B.

Hepatitis E

  • Masa inkubasi 2-9 minggu.
  • Penularan melalui fecal-oral.
  • Gejalanya dapat menyerupai penyakit flu biasa sampai terjadi ikterus.
  • Vaksinasi hepatitis E belum tersedia.

 

Literatur : Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI