UBAH SAMPAH JADI BIAYA OPERASIONAL PAUD

“Bersama kami, sampah menjadi nilai ibadah dan salah satu sumber dana operasional sekolah,” demikian tutur Eni, salah satu pengajar di PAUD Taman Melati yang menerapkan program Sedekah Sampah.

Yogyakarta. PAUD Taman Melati merupakan salah satu PAUD yang ada di wilayah Kauman, Baguntapan, Yogyakarta. Saat ini, PAUD Taman Melati saat ini meniliki 5 orang pengajar dan 40 orang siswa. Semenjak berdiri di tahun 2011, PAUD ini sudah menerapkan biaya pendidikan gratis bagi para siswanya.

“Disini kami memang menggratiskan biaya pendidikan. Biaya operasional setiap bulan yang mencapai 789.000 biasanya didapat dari para donatur,” tutur Eni yang juga sebagai koordinator Sedekah Sampah di PAUD Taman Melati.

Berjalan sekitar 4 tahun, para pengajar PAUD Taman Melati semakin bertekad untuk mewujudkan kemandirian PAUD. Hal ini dimaksudkan agar biaya operasional PAUD tak hanya mengandalkan dari para donatur saja.  Pada tahun 2015, Rumah Zakat dan Cita Sehat menawarkan solusi atas masalah tersebut dengan mengajak PAUD Taman Melati menerapkan Sedekah Sampah.  

“Nantinya, para wali murid diajak untuk mengolah dan memilah sampah. Sampah yang terkumpul akan dijual ke pengepul dan kemudian uangnya digunakan untuk kegiatan operasional PAUD. Selain mudah, sederhana dan juga memiliki nilai ibadah,” tutur Alfian, Public Health Cita Sehat sebagai mitra implementator Rumah Zakat.

Setelah mendengarkan pemaparan dari tim Rumah Zakat dan Cita Sehat, akhirnya para pengajar PAUD Taman Melati sepakat menggulirkan program Sedekah Sampah. Sedekah Sampah sendiri merupakan program yang digulirkan Cita Sehat bersama Rumah Zakat dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

“Sampah yang dikumpulkan biasanya terdiri dari plastik, kardus, botol, beling atau kaca dan kaleng dengan jumlah antara 7 hingga 10 kilogram. Alhamdulillah semenjak bergulir di tahun 2015, hasil dari Sedekah Sampah telah membantu membiayai operasional PAUD hampir separuhnya. Dana dari donaturpun bisa kami anggarkan untuk keperluan PAUD yang lainnya,”ungkap Eni.

Tak hanya itu, dengan menggulirkan program Sedekah Sampah, para wali murid dapat melibatkan anaknya dalam melakukan pengelolaan sampah. Mengajak mereka dalam membedakan yang mana sampah organik, dan anorganik serta limbah berbahaya.

Suksesnya penerapan Sedekah Sampah di PAUD Taman Melati, menarik perhatian Dr. Heru Subaris Kasjono, SKM. M.Kes, Ketua Hakli (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan) yang juga berprofesi sebagai Dosen Jurusan Kesling Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Ia sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan atas kerjasama PAUD dengan Rumah Zakat dan Cita Sehat. Menurutnya, bukan hanya untuk membiayai operasional PAUD namun Sedekah Sampah menjadi salah satu upaya penyelesaian masalah sampah.

“Harapannya masalah sampah bisa teratasi dan hal ini juga mengajarkan pemilahan sampah kepada siswa-siswa PAUD sejak dini,” pungkas Heru.

Neswoom : Nurul Rahayu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *