Saat bencana melanda, fokus kita biasanya langsung ke penyelamatan dan tempat tinggal. Tapi, ada satu hal yang krusial dan sering luput: kesehatan dan gizi para korban.
Menjaga kesehatan di situasi bencana itu penting banget. Bukan cuma agar orang-orang enggak kelaparan, tapi juga untuk memastikan kebutuhan gizi mereka terpenuhi sepenuhnya. Krisis kesehatan yang terjadi akibat bencana itu tujuannya adalah menyelamatkan nyawa dan mencegah kecacatan.
Situasi darurat ini bisa memicu banyak masalah kesehatan serius, dari korban luka hingga krisis gizi, dan juga lumpuhnya pelayanan kesehatan.
Masalah Kesehatan yang Sering Muncul dan Kapan Waktunya
Setelah bencana, ada beberapa masalah kesehatan yang biasanya muncul dan perlu kita perhatikan, terutama bagi kelompok yang paling rentan.
- Masalah Gizi dan Kelompok Rentan
Masalah gizi sangat rentan terjadi pada bayi dan anak-anak, ibu hamil dan menyusui, serta lansia. Kelompok ini butuh perhatian khusus agar tidak mengalami masalah gizi serius seperti stunting.
- Ibu Hamil: Saat darurat, ibu hamil sering mengalami penurunan gizi karena asupan berkurang dan stres meningkat. Kekurangan gizi ini bisa menyebabkan bayi lahir kecil atau mengalami gangguan perkembangan saraf. Mereka membutuhkan tambahan kalori yang lebih tinggi dibanding orang dewasa biasa (sekitar 2.500 kkal/hari).
- Bayi dan Anak: Bayi di bawah 2 tahun perlu dijaga baik-baik agar terhindar dari risiko stunting. Jika ibu menyusui kekurangan gizi, produksi ASI bisa menurun, dan ini meningkatkan risiko malnutrisi pada bayi.
Secara umum, penanganan makanan darurat dibagi menjadi 3 tahap, yang menunjukkan bagaimana kebutuhan gizi berkembang:
- Tahap Penyelamatan (Maksimal 5 Hari Awal): Tujuannya utama agar pengungsi tidak lapar dan status gizi mereka terjaga. Semua kelompok usia menerima makanan yang sama.
- Tahap Tanggap Darurat (Dimulai Paling Lambat Hari ke-20): Mulai ada penapisan status gizi, pemberian makanan tambahan, dan pemantauan.
- Wabah Penyakit Menular (KLB)
Penyakit menular jadi perhatian besar karena lingkungan yang rusak dan pengungsi berkumpul di tempat sempit. Penyakit ini umumnya mulai timbul sekitar 1 minggu setelah bencana.
Masalah penyakit sering disebabkan oleh:
- Kerusakan lingkungan dan sanitasi yang buruk.
- Kurangnya air bersih, baik dari segi jumlah maupun kualitasnya.
- Kurangnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Penyakit yang paling berpotensi jadi wabah (KLB) di lokasi pengungsian antara lain adalah diare dan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).
Cara Kita Bisa Membantu Mengurangi Masalah Kesehatan
Masyarakat luas bisa sangat membantu dalam penanggulangan masalah kesehatan, terutama dalam hal menjaga kebersihan dan memastikan gizi seimbang.
- Menjaga Kebersihan dan Sanitasi Lingkungan
Ini adalah kunci untuk mencegah penyakit menular seperti diare:
- Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS): Ini penting banget, terutama sebelum menyiapkan dan memegang makanan, sebelum makan, dan setelah buang air besar/kecil.
- Pengolahan Makanan yang Bersih: Gunakan peralatan masak dan makan yang bersih. Saat mengolah makanan, usahakan memakai penutup kepala agar rambut atau kotoran tidak jatuh. Makanan yang sudah siap saji juga harus ditutup.
- Penggunaan Jamban: Semua anggota keluarga wajib buang air besar di jamban yang tersedia, termasuk membuang tinja bayi dan anak kecil di jamban.
- Air Bersih: Kita harus memastikan pengungsi mendapatkan air bersih yang memenuhi syarat. Kebutuhan minimal air bersih di hari pertama adalah 5 liter/orang/hari (untuk minum, masak) dan harus ditingkatkan menjadi 15-20 liter/orang/hari di hari-hari berikutnya (untuk minum, masak, mandi, cuci).
- Dukungan Gizi untuk Semua (Terutama Bayi dan Anak)
- Prinsip Dapur Umum: Jika masyarakat terlibat dalam pengelolaan dapur umum, menu harus memenuhi syarat gizi seimbang, disesuaikan dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG), dan diutamakan menggunakan bahan pangan lokal yang tersedia.
- Pemberian ASI: Bayi harus tetap disusui secara eksklusif (hanya ASI) hingga usia 6 bulan dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun atau lebih. Masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang mendukung ibu untuk menyusui.
- Hindari Susu Formula: Penggunaan susu formula harus dikontrol ketat. Jika terpaksa diberikan (misalnya pada anak piatu atau ibu tidak bisa menyusui), harus di bawah pengawasan tenaga kesehatan, menggunakan air bersih matang, dan diberikan menggunakan cangkir/gelas dan sendok yang bersih (jangan pakai botol susu dan dot).
- Memberi Dukungan Psikososial
Saat bencana, banyak orang mengalami perubahan kondisi psikologis karena stres, kehilangan, dan situasi yang tidak menentu.
- Penyebaran Informasi: Sebarkan informasi yang sederhana, menenteramkan, dan empatik tentang reaksi stres normal yang terjadi setelah bencana. Ini penting agar masyarakat tahu bahwa perasaan takut, cemas, atau sedih itu adalah reaksi alamiah dan sementara.
- Mendorong Aktivitas Normal: Dorong kembalinya aktivitas budaya dan keagamaan yang normal. Libatkan orang dewasa dan remaja dalam kegiatan yang konkret dan diminati (misalnya membangun penampungan atau membagikan makanan).

Sumber :
https://www.scribd.com/document/648370544/Bab-25-Manajemen-Makanan-Dan-Gizi-Dalam-Situasi-Bencana-1
Pedoman Teknis : Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia – 2010
Dukung kesehatan masyarakat! Jadikan Cita Sehat mitra CSR Perusahaan Anda :
atau langsung mendukung program-program kemanusiaan kami melalui :
Editor : Harini T


