Sebuah refleksi dari Cita Sehat Foundation atas kebijakan pelabelan gizi terbaru dan jalan panjang yang masih harus ditempuh bersama masyarakat.
Indonesia Sedang Tergelincir Pelan-Pelan
Ada satu angka yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak: 73 persen kematian di Indonesia disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular (PTM). Diabetes, hipertensi, penyakit jantung, stroke, kanker, dan gagal ginjal, bukan virus, bukan bencana, tetapi pola hidup yang kita pilih, kita lanjutkan, dan kita wariskan setiap hari.
Datanya keras kepala dan terus menanjak:
- Prevalensi obesitas dewasa naik dari 21,8% (2018) menjadi 23,4% (2023), hampir satu dari empat orang dewasa Indonesia.
- Prevalensi hipertensi pada penduduk usia ≥18 tahun mencapai 34,1%.’
- Prevalensi diabetes melitus menembus 8,5%–10,9%, dan terus menggeser usia penderita ke kelompok yang lebih muda.
- Yang paling memprihatinkan menurut Riskesdas, hanya 3 dari 10 penderita PTM yang tahu dirinya sakit.
Tujuh dari sepuluh berjalan pulang dari toko, dari kantor, dari sekolah anaknya, tanpa tahu bahwa di dalam tubuhnya sedang terjadi sesuatu yang akan, suatu hari, mengubah hidup mereka dan keluarganya secara permanen.
Dalam konteks inilah kebijakan Nutri-Level hadir di Indonesia pada April 2026 dan dalam konteks inilah pula kita perlu jujur, bahwa label saja tidak akan cukup.
Apa Itu Nutri-Level, Sebenarnya?
Nutri-Level adalah sistem pelabelan gizi di bagian depan kemasan (front-of-pack labeling) yang mengelompokkan produk berdasarkan kandungan Gula, Garam, dan Lemak (GGL) ke dalam empat tingkatan warna:

Logikanya seperti lampu lalu lintas. Konsumen bisa melihat sekilas saat berbelanja, tanpa harus membalik kemasan dan mengurai angka per 100 gram. Pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan, menerapkan kebijakan ini secara bertahap, yaitu dua tahun masa transisi sukarela, baru kemudian wajib bagi industri besar termasuk restoran cepat saji, gerai minuman kekinian, katering, dan retail modern.
Niatnya baik. Arahnya benar. Tetapi di sinilah kita perlu skeptis sebagai profesional kesehatan masyarakat.
Kritik yang Tidak Boleh Dilewatkan
Pada 17 April 2026, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (Cisdi) melalui Food Policy Analyst Ika Nindyas Ranitadewi menyampaikan kritik tajam yang dipublikasikan di Kompas yaitu desain Nutri-Level saat ini berisiko tidak cukup mengubah perilaku.
Tiga catatan penting yang patut kita pegang:
Pertama, label informasi belum tentu mengubah keputusan. Studi global menunjukkan pelabelan gizi memang meningkatkan kesadaran, tetapi dampaknya pada perilaku konsumsi terbatas jika label tidak memberikan peringatan risiko yang tegas. Konsumen yang sudah ragu tetap akan ragu; konsumen yang tidak peduli tidak akan tergerak hanya oleh warna kuning.
Kedua, ada zona abu-abu yang berbahaya. Produk dengan kandungan GGL tinggi masih bisa masuk kategori C (kuning) dan oleh konsumen awam dianggap “aman-aman saja”. Padahal kuning di sini adalah peringatan, bukan izin. Tanpa label peringatan eksplisit seperti “Tinggi Gula” atau “Kelebihan Garam” sebagaimana diterapkan di Chile, pesan risikonya tumpul.
Ketiga, sifat sukarela melemahkan transparansi. Bila kebijakan tidak bersifat wajib, hanya produsen dengan profil gizi baik yang akan memasang label sebagai alat pemasaran. Produk yang justru paling perlu ditandai yang tinggi GGL akan diam-diam menghindar. Keseluruhan sistem berisiko menjadi etalase, bukan rambu.
Pengalaman Chile membuktikan: label peringatan baru efektif ketika digabung dengan pembatasan iklan, pengaturan lingkungan sekolah, dan kebijakan fiskal seperti cukai minuman manis. Label adalah salah satu instrumen, bukan satu-satunya jurus.
Mata Rantai yang Hilang: Manusia, Bukan Sekadar Produk
Di sinilah kita harus jujur sebagai bangsa. Memberi label pada produk adalah pekerjaan hulu penting, tetapi belum menyentuh jantung masalahnya. Karena PTM bukan masalah produk. PTM adalah masalah pola hidup, lingkungan sosial, akses informasi, dan kesenjangan literasi gizi.
Beberapa pertanyaan yang label tidak bisa jawab:
- Bagaimana ibu di pelosok yang berbelanja di pasar tradisional, di mana tidak ada kemasan ber-Nutri-Level?
- Bagaimana pekerja yang setiap hari makan di warung pinggir jalan?
- Bagaimana anak sekolah yang jajan di kantin tanpa pelabelan apa pun?
- Bagaimana lansia yang sudah hipertensi tetapi tidak pernah memeriksakan diri?
- Bagaimana keluarga yang tahu makanannya tinggi gula, tetapi tidak punya alternatif terjangkau?
Label adalah hilir. Hulu sebenarnya adalah manusia. Dan manusia tidak diubah oleh stiker, manusia diubah oleh edukasi yang konsisten, pendampingan yang sabar, lingkungan yang mendukung, dan akses yang setara.
Inilah ruang yang selama 17 tahun kami isi di Cita Sehat.
I – Istirahat cukup
Tidur 7–8 jam membantu memulihkan tubuh dan mengurangi stres.
K – Kendalikan stres
Luangkan waktu untuk relaksasi, meditasi, atau aktivitas yang menyenangkan.
Tips Tambahan untuk Anda atau Keluarga yang Sudah Terdiagnosis PTM
Jika sudah memiliki PTM, fokus utama adalah mengendalikan penyakit, antara lain dengan:
- rutin minum obat sesuai anjuran dokter,
- menjalankan pola makan yang tepat,
- melakukan aktivitas fisik yang aman,
- kontrol rutin ke fasilitas kesehatan,
- menghindari paparan zat berbahaya seperti bahan karsinogenik.
Ingat, PTM bukan akhir segalanya. Pengendalian yang baik dapat membuat kualitas hidup tetap optimal.
Mulai Hari Ini, Pilih Satu Langkah Sehat
✅ Anda tidak perlu mengubah semuanya sekaligus.
✅ Mulai saja dari satu kebiasaan kecil—cek tekanan darah, kurangi minuman manis, atau tambah 10 menit jalan kaki.
Jangan tunggu gejalanya muncul. PTM bisa dicegah dengan langkah sederhana yang Anda mulai hari ini.
Sumber:
- Kompas, “Tingkatkan Kesadaran Konsumen, Nutrilevel Mesti Disertai Label Peringatan” (17 April 2026)
- Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Kementerian Kesehatan RI
- Riskesdas 2018, Kementerian Kesehatan RI
- WHO NCD Country Profile Indonesia 2018
- Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (Cisdi)
- Cita Sehat Foundation, citasehat.org


