Gaya Hidup dan Prevalensi PTM di Indonesia
Kalau kita perhatikan pola kematian di Indonesia dua dekade terakhir, ada pergeseran besar yang sebenarnya jarang dibicarakan di ruang publik. Dulu, penyakit infeksi seperti diare, TBC, atau malaria menjadi penyebab kematian terbesar. Sekarang, justru penyakit tidak menular (PTM) seperti jantung, stroke, diabetes, kanker, dan hipertensi yang mendominasi. Kementerian Kesehatan RI bahkan menyebutkan bahwa sekitar 75 persen kematian di Indonesia saat ini disebabkan oleh PTM. Artinya, dari setiap empat orang yang meninggal, tiga diantaranya kemungkinan besar meninggal karena penyakit yang sebetulnya bisa dicegah.
Fenomena ini disebut transisi epidemiologi, dan penyebab utamanya bukan wabah atau kuman, melainkan sesuatu yang lebih dekat dengan keseharian kita: gaya hidup. Artikel ini mencoba memotret situasi PTM di Indonesia hari ini, dari mana asalnya, apa dampaknya, dan langkah apa yang bisa diambil, termasuk bagaimana Cita Sehat memposisikan diri di garis depan upaya promotif dan preventif.
Potret Prevalensi PTM di Indonesia
Data paling mutakhir datang dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dirilis Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. Beberapa temuan utamanya:
- Hipertensi: prevalensi berdasarkan pengukuran tekanan darah pada penduduk usia 18 tahun ke atas tercatat 30,8 persen pada 2023, sedikit menurun dari 34,1 persen pada Riskesdas 2018. Namun ada kesenjangan besar antara yang terdiagnosis dan yang sebenarnya mengidap: hanya sekitar 8 persen penduduk yang tahu dirinya hipertensi, sementara hasil pengukuran menunjukkan angka jauh lebih tinggi. Banyak orang menyandang “hipertensi diam-diam” tanpa menyadarinya.
- Diabetes melitus: prevalensi berdasarkan pemeriksaan gula darah pada usia 15 tahun ke atas naik dari 10,9 persen (2018) menjadi 11,7 persen (2023). Sama seperti hipertensi, kesadaran diagnosis masih sangat rendah dibanding temuan pemeriksaan langsung.
- Obesitas: prevalensi obesitas pada orang dewasa (di atas 18 tahun) naik dari 21,8 persen (2018) menjadi 23,4 persen (2023), dengan obesitas sentral (lingkar perut berlebih) mencapai 36,8 persen pada usia 15 tahun ke atas.
- Kanker: menurut data Globocan 2022 (International Agency for Research on Cancer/WHO) yang dikutip Kementerian Kesehatan, Indonesia mencatat lebih dari 408.661 kasus kanker baru dan sekitar 242.000 kematian akibat kanker setiap tahun. Lima jenis kanker paling banyak ditemukan adalah kanker payudara, serviks, paru, kolorektal, dan hati.
Perlu digarisbawahi, tren hipertensi dan diabetes kini juga mulai bergeser ke usia lebih muda dan usia produktif, bukan lagi eksklusif milik lansia. Ini yang membuat PTM semakin dianggap sebagai ancaman jangka panjang bagi produktivitas bangsa.
Gaya Hidup: Akar Masalah yang Sering Diabaikan
PTM jarang muncul tiba-tiba. Ia berkembang perlahan, dibentuk oleh kebiasaan yang diulang bertahun-tahun. SKI 2023 memberi gambaran jelas soal ini:
- Merokok: 22,46 persen penduduk usia 10 tahun ke atas adalah perokok aktif harian, salah satu kontributor utama penyakit jantung, stroke, kanker paru, dan penyakit paru obstruktif kronis.
- Kurang aktivitas fisik: hanya 62,6 persen penduduk usia 10 tahun ke atas yang memiliki aktivitas fisik cukup, artinya sekitar sepertiga penduduk kurang bergerak. Alasan paling banyak dikemukakan adalah “tidak punya waktu” (48,7 persen), yang mencerminkan gaya hidup urban yang makin sedentari.
- Kurang konsumsi buah dan sayur: sebanyak 96,7 persen penduduk usia 5 tahun ke atas mengonsumsi buah dan sayur di bawah anjuran harian, sebuah angka yang sangat tinggi dan sering luput dari perhatian.
- Konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih: didorong oleh urbanisasi, kemudahan akses makanan olahan dan cepat saji, serta minuman berpemanis dalam kemasan yang harganya relatif terjangkau.
Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan lingkaran yang saling memperkuat: pola makan tidak seimbang memicu obesitas, obesitas memicu resistensi insulin dan tekanan darah tinggi, dan keduanya menjadi jalan masuk menuju penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, hingga beberapa jenis kanker.
Dampak yang Tidak Bisa Dianggap Remeh
Dampak PTM tidak berhenti pada individu yang mengidapnya. Secara ekonomi, beban ini sangat nyata dan terus membesar. Data BPJS Kesehatan menunjukkan klaim delapan penyakit katastropik (didominasi PTM seperti jantung, kanker, stroke, dan gagal ginjal) mencapai sekitar Rp34,7 triliun pada 2023, melonjak dari Rp24,05 triliun pada 2022. Penyakit jantung sendiri menyerap sekitar Rp17,6 triliun atau lebih dari separuh total biaya, menjadikannya beban katastropik terbesar dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional.
Di level rumah tangga, PTM sering berarti biaya pengobatan jangka panjang, hilangnya produktivitas kerja, dan penurunan kualitas hidup yang bertahap. Di level bangsa, PTM yang menyerang usia produktif mengancam bonus demografi yang selama ini digadang-gadang menjadi modal besar Indonesia menuju 2045. Sehat atau tidaknya angkatan kerja hari ini akan sangat menentukan daya saing Indonesia beberapa dekade ke depan.
Saatnya Promotif dan Preventif Jadi Prioritas
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui konsep “best buys” menegaskan bahwa mencegah PTM jauh lebih hemat biaya dibanding mengobatinya. Beberapa intervensi yang terbukti efektif dan murah antara lain menaikkan cukai rokok dan minuman berpemanis, membatasi konsumsi garam, mendorong aktivitas fisik, serta deteksi dini melalui skrining rutin.
Indonesia sebenarnya sudah bergerak ke arah ini. Beberapa langkah yang sedang berjalan:
- Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), dicanangkan sejak 2016, mendorong masyarakat menjalankan perilaku CERDIK (Cek kesehatan berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet seimbang, Istirahat cukup, Kelola stres) dan PATUH bagi penyandang PTM.
- Posbindu PTM, pos pembinaan terpadu di tingkat masyarakat untuk deteksi dini faktor risiko seperti tekanan darah, gula darah, dan lingkar perut.
- Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), diluncurkan Kemenkes pada Februari 2025 dan telah menjangkau lebih dari 73,8 juta peserta, menjadi salah satu upaya skrining massal terbesar yang pernah dilakukan pemerintah untuk mendeteksi PTM sejak dini.
- Rencana penerapan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) yang dijadwalkan mulai berlaku 2026, sebagai instrumen fiskal untuk menekan konsumsi gula berlebih.
Di level individu, langkahnya sebenarnya sederhana namun perlu konsistensi: menjaga pola makan seimbang dengan cukup serat, bergerak aktif minimal 30 menit sehari, berhenti atau tidak mulai merokok, tidur cukup, mengelola stres, dan rutin memeriksakan kesehatan meski merasa sehat. Justru karena PTM sering tanpa gejala di tahap awal, pemeriksaan rutin menjadi kunci deteksi dini.
Respon Cita Sehat: Menguatkan Promotif dan Preventif dari Akar Rumput
Sebagai lembaga yang bergerak di bidang pemberdayaan kesehatan masyarakat, Cita Sehat memandang urgensi PTM ini sebagai panggilan untuk memperkuat dua pilar yang selama ini sering menjadi anak tiri dalam sistem kesehatan kita: promotif dan preventif. Empat pilar kesehatan masyarakat, yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, memang saling melengkapi, tetapi mencegah penyakit sebelum terjadi jauh lebih berdampak dan lebih hemat biaya dibanding mengobatinya setelah parah.
Dalam praktiknya, Cita Sehat menerjemahkan komitmen ini melalui beberapa inisiatif. Melalui jaringan Klinik Cita Sehat yang tersebar di tujuh kota di enam provinsi, layanan skrining kesehatan menjadi pintu masuk deteksi dini faktor risiko PTM di tengah masyarakat. Program Gerakan Lansia Sehat menghadirkan pemeriksaan kesehatan gratis sekaligus senam rutin bagi kelompok lanjut usia, kelompok yang paling rentan terhadap hipertensi dan diabetes. Sementara itu, program Aksi Kesehatan menjangkau wilayah terpencil dan situasi darurat yang selama ini sulit mengakses layanan kesehatan dasar, termasuk edukasi gaya hidup sehat dan skrining PTM.
Cita Sehat juga aktif dalam edukasi gizi masyarakat, salah satunya melalui kampanye kesadaran label Nutri-Level pada kemasan pangan, agar masyarakat lebih mudah memilih produk dengan kandungan gula, garam, dan lemak yang lebih rendah. Pendekatan ini sejalan dengan semangat Germas dan konsep best buys WHO, yakni mengubah lingkungan dan kebiasaan sehari-hari agar pilihan sehat menjadi pilihan yang mudah diambil, bukan sekadar imbauan tanpa dukungan sistem.
Bagi Cita Sehat, menekan angka PTM bukan pekerjaan satu pihak. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, komunitas, dan individu itu sendiri. Karena itu, ruang kemitraan tetap terbuka lebar, baik melalui program CSR kesehatan, volunteering, maupun dukungan lain, untuk bersama-sama memperluas jangkauan skrining dan edukasi hidup sehat ke lebih banyak wilayah di Indonesia.
Penutup
Angka-angka di atas bukan untuk menakut-nakuti, melainkan pengingat bahwa PTM adalah penyakit yang sebagian besar bisa dicegah, bukan takdir yang tidak bisa dihindari. Perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil: memilih tangga daripada lift, mengurangi minuman manis, meluangkan waktu untuk berjalan kaki, atau sekadar rutin memeriksakan tekanan darah. Ketika langkah kecil ini dilakukan bersama-sama, oleh individu, keluarga, komunitas, hingga lembaga seperti Cita Sehat, masa depan kesehatan Indonesia yang lebih baik bukan sekadar harapan, tetapi target yang bisa dicapai.
Referensi
- Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 – Hasil Utama dan Fact Sheet PTM.
- Databoks/Katadata (2024). “Prevalensi Hipertensi Indonesia Turun Jadi 30,8% pada 2023” dan “Prevalensi Diabetes Indonesia Naik Jadi 11,7% pada 2023”, berdasarkan data SKI 2023.
- International Agency for Research on Cancer (IARC)/WHO, Globocan 2022, dikutip dalam Kerangka Kerja Pencegahan dan Pengendalian Kanker, Kementerian Kesehatan RI.
- BPJS Kesehatan. Data klaim penyakit katastropik program JKN tahun 2022–2023, sebagaimana dilaporkan Tribunnews dan Dataindonesia.id.
- Kementerian Kesehatan RI. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), 2025.
- Kementerian Kesehatan RI. Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), ayosehat.kemkes.go.id.
- VOA Indonesia (2024). “Kemenkes: 75 Persen Kematian di Indonesia Akibat Penyakit Tidak Menular.”
- World Health Organization. “Best Buys” for the Prevention and Control of NCDs.
- Cita Sehat Foundation, citasehat.org – profil program dan layanan kesehatan


