Sebagai NGO kesehatan yang setiap hari bekerja bersama keluarga di posyandu, klinik, dan sekolah, kami di Cita Sehat sering bertemu satu kenyataan sederhana: masalah kesehatan jarang punya satu penyebab, karena itu tidak pernah selesai oleh satu pihak saja. Balita yang stunting tidak cukup hanya diberi makanan bergizi. Ia juga membutuhkan air bersih, jamban yang layak, ibu yang rutin memeriksakan kehamilan, dan lingkungan yang memahami pentingnya gizi. Semua itu melibatkan banyak tangan.
Di sinilah kolaborasi pentahelix menjadi relevan. Sebelum membahas cara kerjanya, mari kita lihat dulu seberapa besar tantangan yang sedang kita hadapi bersama.
Potret Masalah Kesehatan Indonesia Hari Ini
Data resmi beberapa tahun terakhir menunjukkan kemajuan yang patut disyukuri, sekaligus pekerjaan rumah yang masih panjang.
- Stunting. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 dari Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi stunting nasional turun dari 21,5% pada 2023 menjadi 19,8% pada 2024, pertama kalinya berada di bawah 20%. Namun kesenjangannya lebar: 29,8% pada kelompok ekonomi terbawah dibanding sekitar 12% pada kelompok teratas, dan 37% di Nusa Tenggara Timur dibanding 8,6% di Bali. Separuh balita stunting terkonsentrasi di enam provinsi, sementara pemerintah menargetkan 14,2% pada 2029.
- Tuberkulosis (TBC). Menurut Global Tuberculosis Report 2025 dari WHO, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dan menyumbang sekitar 10% kasus TBC global. Kemenkes, merujuk laporan WHO tahun sebelumnya, memperkirakan 1.090.000 kasus dan 125.000 kematian per tahun, atau sekitar 14 orang meninggal setiap jam. Pada 2024, sekitar 885 ribu kasus berhasil ditemukan, termasuk sekitar 135 ribu pada anak usia 0–14 tahun.
- Penyakit tidak menular. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menemukan prevalensi hipertensi 30,8% pada penduduk usia 18 tahun ke atas berdasarkan pengukuran tekanan darah, tetapi hanya 8,6% yang pernah didiagnosis dokter. Prevalensi diabetes berdasarkan pemeriksaan gula darah mencapai 11,7%. Artinya, banyak orang hidup dengan penyakit kronis tanpa menyadarinya.
- Kesehatan ibu. Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 (BPS) mencatat Angka Kematian Ibu 189 per 100.000 kelahiran hidup, dengan rentang dari 48 di DKI Jakarta hingga 565 di Papua. Target SDGs adalah di bawah 70 pada 2030.
- Kesehatan mental remaja. Survei I-NAMHS 2022 menunjukkan sekitar satu dari tiga remaja usia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir, setara kurang lebih 15,5 juta remaja.
Mengapa Pendekatan Pentahelix?
Pentahelix adalah model kolaborasi lima unsur: akademisi, dunia usaha, komunitas, pemerintah, dan media, yang sering disingkat ABCGM (Academician, Business, Community, Government, Media). Model ini sudah lazim dipakai di Indonesia, termasuk oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang menyebut kerangka kolaborasi pentahelix dalam penguatan kesiapsiagaan kedaruratan kesehatan.

Dalam berbagai kajian penanganan stunting, peran kelima unsur ini biasa dipetakan sebagai berikut: akademisi sebagai perancang, dunia usaha sebagai pemungkin (enabler), komunitas sebagai akselerator, pemerintah sebagai regulator dan pengendali, serta media sebagai penyebar pesan (expander). Unsur komunitas di sini mencakup masyarakat sipil secara luas: kader, tokoh agama, organisasi pemuda, hingga NGO kesehatan.
Peran Masing-Masing Unsur
1. Pemerintah: Regulator dan Orkestrator
Pemerintah menetapkan arah melalui RPJMN, Rencana Strategis Kemenkes 2025–2029, dan Perpres Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Pemerintah juga menyediakan layanan dasar seperti puskesmas, posyandu, dan JKN. Satu peran yang sering terlupakan adalah membuka data dan ruang koordinasi, agar mitra non-pemerintah tidak bekerja sendiri-sendiri. Pemerintah daerah memegang kunci, karena intervensi paling efektif terjadi di tingkat desa dan kelurahan.
2. Akademisi: Penyedia Bukti dan Inovasi
Perguruan tinggi dan lembaga riset memastikan program dirancang berdasarkan bukti: kajian penyebab masalah di tingkat lokal, desain intervensi, evaluasi dampak, serta pelatihan tenaga kesehatan dan kader. Mahasiswa melalui praktik lapangan dan pengabdian masyarakat juga bisa menjadi energi tambahan, bahkan pengembang inovasi digital.
3. Dunia Usaha: Penggerak Sumber Daya melalui CSR Kesehatan
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Pasal 74) mewajibkan perseroan yang usahanya di bidang atau berkaitan dengan sumber daya alam untuk menjalankan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, dan banyak perusahaan lain melakukannya secara sukarela. CSR kesehatan paling berdampak ketika bergeser dari donasi sesaat menjadi investasi program: berbasis data kebutuhan, memiliki indikator hasil yang jelas, dan berjalan cukup lama untuk mengubah perilaku. Selain dana, dunia usaha membawa keahlian manajemen, logistik, teknologi, dan karyawan yang bisa menjadi relawan.
4. Komunitas dan NGO Kesehatan: Akselerator di Akar Rumput
Kader posyandu, tokoh agama, karang taruna, organisasi profesi, dan NGO kesehatan adalah pihak yang paling dekat dengan warga. Merekalah yang menerjemahkan kebijakan menjadi kegiatan nyata, mendampingi keluarga, memantau perkembangan, dan menyuarakan kebutuhan warga kepada pembuat kebijakan. NGO kesehatan juga kerap berperan sebagai jembatan: mengelola dana CSR kesehatan secara akuntabel, menghubungkan perusahaan dengan puskesmas dan desa, serta memastikan program tetap berjalan setelah seremoni peluncuran usai.
5. Media: Pengeras Suara dan Penjaga Akurasi
Media arus utama, media digital, dan para pembuat konten membentuk cara publik memandang kesehatan. Perannya adalah menyebarkan informasi yang benar, melawan hoaks dan stigma (misalnya terhadap penyintas TBC atau orang dengan masalah kesehatan jiwa), serta mengawasi akuntabilitas program, baik program pemerintah maupun program CSR.
Dari Bekerja Bersama Menjadi Bersinergi
Kolaborasi bukan sekadar nota kesepahaman dan foto bersama. Dari pengalaman lapangan, kami melihat lima prinsip yang membuat pentahelix benar-benar bekerja:
- Satu data, satu sasaran. Semua pihak berangkat dari data yang disepakati, seperti data posyandu, SSGI, atau data TBC di Sistem Informasi Tuberkulosis, sehingga bantuan diarahkan ke keluarga dan wilayah yang paling membutuhkan, bukan menumpuk di lokasi yang mudah dijangkau.
- Pembagian peran sesuai keunggulan. Pemerintah memimpin, akademisi merancang dan mengevaluasi, dunia usaha mendanai dan berbagi keahlian, komunitas dan NGO kesehatan melaksanakan serta mendampingi, media memperluas jangkauan pesan.
- Forum koordinasi rutin di daerah. Kolaborasi sebaiknya menyatu dengan mekanisme yang sudah ada, misalnya Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di daerah, agar rencana kerja tidak tumpang tindih.
- Indikator bersama dan transparansi. Ukur hasil, bukan hanya kegiatan: berapa balita yang membaik status gizinya, berapa terduga TBC yang diperiksa dan tuntas berobat. Laporkan secara terbuka kepada mitra dan publik.
- Rencana keberlanjutan sejak awal. Setiap program perlu skenario serah terima kepada pemerintah desa atau komunitas, sehingga manfaatnya tetap ada setelah pendanaan berakhir.
Peran yang Telah Dijalankan Cita Sehat
Prinsip-prinsip di atas bukan teori bagi kami. Sebagai NGO kesehatan yang berbasis di Bandung, Cita Sehat Foundation menjalankan program dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif mengikuti siklus hidup, mulai dari ibu hamil, balita, remaja, hingga lansia dan penyandang disabilitas. Untuk penanganan stunting, kami menjalankan Excellent Stunting Care, Siaga Gizi bagi ibu hamil dan balita, Care For Teens serta WASH GOOD untuk air bersih, sanitasi, dan kebersihan. Untuk membuka akses layanan, kami mengelola jaringan klinik, program Siaga Sehat, Gerakan Lansia Sehat, Peduli Disabilitas, dan pemberian makanan tambahan. Untuk kesehatan mental remaja, kami menghadirkan program Gandeng Kawan.
Banyak di antaranya lahir dari kolaborasi pentahelix. Bersama Yayasan BUMN di Desa Janaka, Kabupaten Pandeglang, pada 2023, dunia usaha membangun pipa air bersih dan jamban, sementara Cita Sehat memberikan edukasi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat dan pemeriksaan kesehatan gratis, contoh nyata CSR kesehatan yang menyentuh infrastruktur sekaligus perilaku. Pada Juni 2026, kami meluncurkan Program dan Aplikasi TB Care di Kelurahan Cibangkong, Bandung, bersama UPTD Puskesmas Ibrahim Adjie dan mahasiswa Poltekkes Bandung, untuk membekali remaja menjadi agen perubahan dalam melawan TBC dan stigmanya. Rangkaian Program Excellent stunting care, Kesehatan Reproduksi pada remaja, revitalisasi posyandu serta edukasi kesehatan adalah contoh lain dari kolaborasi positif antara puskesmas setempat, Korporasi melalui CSR Kesehatan mereka serta Cita Sehat sebagai operator program.
Dari semua pengalaman itu, kami semakin yakin bahwa NGO kesehatan bukan pengganti peran negara, dan CSR kesehatan bukan sekadar kewajiban laporan tahunan. Keduanya adalah bagian dari satu ekosistem yang sama. Cita Sehat telah dan akan terus berdiri di tengah ekosistem itu: menjembatani pemerintah dengan warga, menghubungkan dunia usaha dengan kebutuhan yang paling mendesak, menggandeng kampus untuk memastikan program berbasis bukti, dan bekerja bersama media untuk menyebarkan informasi yang benar. Pintu kami terbuka bagi perusahaan yang ingin menyalurkan CSR kesehatan secara terukur, bagi pemerintah daerah, akademisi, komunitas, dan rekan media. Masalah kesehatan Indonesia terlalu besar untuk dikerjakan sendiri, tetapi tidak terlalu besar untuk diselesaikan bersama.
Oleh: [Ali Mujianto, MM], Direktur Cita Sehat Foundation
Sumber Data
- Kemenkes RI, BKPK. SSGI 2024: Prevalensi Stunting Nasional Turun Menjadi 19,8% (26 Mei 2025). https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/ssgi-2024-prevalensi-stunting-nasional-turun-menjadi-198/
- Kemenkes RI, BKPK. Capaian SSGI 2024 Ungkap Tren Positif. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/capaian-ssgi-2024-ungkap-tren-positif/
- Kemenkes RI, BKPK. Potret Stunting di Indonesia. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/potret-stunting-di-indonesia/
- InfoPublik. Intervensi Masa Krusial Jadi Fokus Kemenkes Tekan Angka Stunting (target 2025–2029). https://infopublik.id/kategori/nasional-sosial-budaya/970585/intervensi-masa-krusial-jadi-fokus-kemenkes-tekan-angka-stunting
- WHO Global Tuberculosis Report 2025, via The Tribune: India logged highest number of TB cases in 2024. https://www.tribuneindia.com/news/health/india-logged-highest-number-of-tb-cases-in-2024-who-report
- Kemenkes RI. Surat Edaran HK.02.02/C/348/2025 (estimasi 1.090.000 kasus dan 125.000 kematian TBC). https://jdih.kemkes.go.id/common/dokumen/2025sepp348.pdf
- Kemenkes RI. Gerakan Indonesia Akhiri TBC (temuan kasus 2024). https://kemkes.go.id/id/indonesias-movement-to-end-tb
- detikHealth. Miris, Indonesia Masih Peringkat Ke-2 Kasus TBC Terbanyak di Dunia (24 Maret 2025). https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-7840450/miris-indonesia-masih-peringkat-ke-2-kasus-tbc-terbanyak-di-dunia
- Kemenkes RI, BKPK. Pemanfaatan Data SKI 2023 untuk Evaluasi Program. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/pemanfaatan-data-ski-2023-untuk-evaluasi-program/
- Kemenkes RI, BKPK. Factsheet SKI 2023: Hipertensi dan Diabetes. https://repository.badankebijakan.kemkes.go.id/5536/1/07%20factsheet%20PTM_bahasa.pdf
- Databoks/Katadata, mengutip BPS Long Form SP2020: Angka Kematian Ibu per Provinsi. https://databoks.katadata.co.id/en/consumer-services/statistics/b11fafe62bb65d2/papua-province-had-the-highest-maternal-mortality-rate-in-indonesia-2020-2022
- Kemenkes RI. Kolaborasi Pentahelix dalam kesiapsiagaan kedaruratan kesehatan. https://www.kemkes.go.id/eng/menteri-budi-g-sadikin-bersama-menhan-dan-tedros-tanda-tangani-kerja-sama-pembentukan-pusat-pelatihan-kedaruratan-kesehatan
- Jurnal Unpad. Kolaborasi Pentahelix dalam Penanganan Balita dengan Risiko Stunting. https://jurnal.unpad.ac.id/share/article/view/70667
- Cita Sehat Foundation. Program TB Care (10 Juni 2026). https://citasehat.org/tb-care-cita-sehat-remaja-bandung/
- Cita Sehat Foundation. Profil, program, dan kolaborasi Yayasan BUMN. https://citasehat.org/en/new-home/
- Jurnal UGM. Kapasitas Sustainability Program Kebun Gizi Mandiri bersama Cita Sehat Foundation. https://journal.ugm.ac.id/v3/JMPK/article/download/4249/1526


